Berawal dari
“He has a sweet smile”
Kring!!! Waktu berdering
menunjukkan pukul 5 pagi. Hari ini, tepatnya 13 Juli 2009 aku resmi melepas
seragam putih merahku dan berganti putih biru. Setelah melaksanakan kewajibanku
sebagai umat Islam aku langsung bergegas mandi. “Ma, tolong iketin rambut aku
dong!” teriakku pada mamaku. “Udah SMP kok belum bias ngiket rambut!”ejek
mamaku. “Nggak apa – apalah, kan masih ada mama!” rayuku dengan senyum manisku.
Setelah rambutku yang agak bergelombang nggak jelas ini diiket dan dipita rapi
aku siap berangkat ke sekolah! Yups, tepatnya SMP Negeri 1 Pati. Tepat pukul
05.50 mamaku siap mengantarku sampai gang rumah dan setia menemaniku menanti
bus yang biasa menjemputku. Lama menunggu akhirnya bus yang kunanti pun tiba. “Ma,
aku berangkat dulu ya!” izinku pada mamaku. “Ya, hati-hati!” jawab mamaku.
J J J J J J
Hari pertama bersekolah semua
nampak asing bagiku. Memang benar perkataan orang tuaku, semua butuh waktu dan
yang pasti adaptasi. Apapun keadaannya pastikan kita menikmatinya! Itulah motto
hidupku! (Kayak masakan aja pakai motto!). Setelah lima menit berkeliling
akhirnya kutemukan kelasku, kelas VII-B. Dari 24 siswa hanya seorang siswa yang
kukenal dan dia teman sebangkuku, namanya Ira Anggreni . Oke, pelajaran pertamaku
siap dimulai!
Tiga bulan berlalu. Aku cukup
akrab dengan teman-teman satu kelasku dan telah kutemukan sosok sahabat. Mereka
adalah Puspita Dewi Oktorani dan Firda Nasya Safira.
“Morning student’s!” salam miss Risma saat memasuki kelas VII-B. “Morning miss!” jawab kami serempak. “Okay, today we will discuss about Descriptive Text!”. Miss Risma menerangkan materi tersebut dengan sangat jelas. “Any question? ” Tanya miss Risma. “No!” jawab kami. “Okay, I will give you a task. Please make description about your classmate!”. “Terserah miss???” Tanya salah satu temanku. “Ya tidak, saya akan membaginya sekarang!”. Miss Risma mulai mengumumkan pembagian tugas dan tak lama kemudian “Terakhir Anggita Oktaviani Putri mendiskripsikan Aditya Prasetyo Putra…! Okay, any question again??” Tanya miss Risma “Presentasinya kapan miss? “ tanyaku.“Presentasinya kita mulai minggu depan!”
“Pus, menurutmu Adit orangnya gimana?” tanyaku pada puspita. “Menurutku dia itu pendiam dan pemalas, dia kan jarang ngerjain tugas.” Jawabnya. “Ya sih, tapi masak aku sejujur itu? Kan kasihan!” jawabku. “Ya juga ya! Alah pikirin besok aja deh, masih ada waktu seminggu kok! Mending kita ke kantin!” ajaknya. Kami berjalan menuju kantin.
“Morning student’s!” salam miss Risma saat memasuki kelas VII-B. “Morning miss!” jawab kami serempak. “Okay, today we will discuss about Descriptive Text!”. Miss Risma menerangkan materi tersebut dengan sangat jelas. “Any question? ” Tanya miss Risma. “No!” jawab kami. “Okay, I will give you a task. Please make description about your classmate!”. “Terserah miss???” Tanya salah satu temanku. “Ya tidak, saya akan membaginya sekarang!”. Miss Risma mulai mengumumkan pembagian tugas dan tak lama kemudian “Terakhir Anggita Oktaviani Putri mendiskripsikan Aditya Prasetyo Putra…! Okay, any question again??” Tanya miss Risma “Presentasinya kapan miss? “ tanyaku.“Presentasinya kita mulai minggu depan!”
“Pus, menurutmu Adit orangnya gimana?” tanyaku pada puspita. “Menurutku dia itu pendiam dan pemalas, dia kan jarang ngerjain tugas.” Jawabnya. “Ya sih, tapi masak aku sejujur itu? Kan kasihan!” jawabku. “Ya juga ya! Alah pikirin besok aja deh, masih ada waktu seminggu kok! Mending kita ke kantin!” ajaknya. Kami berjalan menuju kantin.
Waktu presentasi pun tiba,
saatnya maju satu-persatu. Menunggu cukup lama akhirnya giliranku tiba! “Hello
Guys, on this occasion I’d like to tell you about my classmate. His name’s
Aditya Prasetyo Putra…” Semua nampak biasa mendengarkan deskripsiku, namun
ketika aku berkata “Although he doesn’t a handsome boy but he has a sweet
smile.” Semua bersorak “Cie,,,!!! Ckcyw!!!”
Haduh, apa aku salah?? Ah ntah
benar atau salah aku tak tahu, yang pasti kejadian memalukan kulakukan hari
ini. “Ciee,, Anggi!” goda Firda yang emang hobinya ngisengin orang. “Ngapain
ciee-ciee??” tanyaku ketus. “Alah, ‘but he has a sweet smile’!” ejeknya
menirukan ucapanku. “Mangnya kenapa kalau aku bilang gitu?” jawabku. “Nggak,
nggak kenapa-kenapa!” jawabnya dengan senyum yang tidak biasa. “Udah deh jangan
dibahas lagi, mending kita ke kantin!” ajakku mengalihkan pembicaraan. “Ah,
sebel!!!!!” teriakku dalam kamar sambil kupeluk guling kesayanganku. Namun
setelah hari itu kuakui semua terasa berubah. Aku mulai memikirkannya . Ada
sedikit rasa ‘penasaran’ untuknya dan
tak sengaja terlintas di benakku untuk
mencoba lebih mengenalnya.
“Mi, kira-kira yang punya nomornya Adit siapa ya??” tanyaku pada mami Puspita, panggilan sayangku untuknya. “Emang kenapa kamu nyari nomornya Adit?” tanyanya sedikit penasaran. “Nggak kenapa-kenapa, cuma mau ngerjain doang!” jawabku. “Owh, mungkin Wahyu Pratama punya deh, dia kan teman dekatnya Adit.” jawabnya. “Em ya deh, nanti tak nyoba nanya.” Teet!!!! Bel masuk sekolah berbunyi dan itu tandanya pelajaran hari ini siap dimulai.
“Mi, kira-kira yang punya nomornya Adit siapa ya??” tanyaku pada mami Puspita, panggilan sayangku untuknya. “Emang kenapa kamu nyari nomornya Adit?” tanyanya sedikit penasaran. “Nggak kenapa-kenapa, cuma mau ngerjain doang!” jawabku. “Owh, mungkin Wahyu Pratama punya deh, dia kan teman dekatnya Adit.” jawabnya. “Em ya deh, nanti tak nyoba nanya.” Teet!!!! Bel masuk sekolah berbunyi dan itu tandanya pelajaran hari ini siap dimulai.
J J J J J J
Sesampainya di rumah hal yang
pertama aku lakukan adalah sms Wahyu. “Wahyu, punya nomornya Adit nggak?”
tanyaku ‘blak-blakan’ padanya.
“Punya, ada apa?” jawabnya singkat. “Boleh minta?” balasku. “Buat apa?”
tanyanya. “Buat koleksi kok!” jawabku. “Em ok, aku kasih. Tunggu bentar ya!” balasnya.
Tak lama menunggu akhirnya aku punya nomornya Adit. Congratulation!!!! “Thanks
ya!” sms terakhirku buat Wahyu. Tepat malam minggu aku putusin buat sms dia.
“Hai!!” pesan pertamaku buat dia. “Hai juga, siapa ini?” balasnya. “Tebak dulu
dong!” godaku. “Alah, kamu siapa leh?” tanyanya memaksa. Karna dia selalu
memaksa akhirnya aku memberi tahu namaku sebenarnya. “Ya deh, aku Anggi!”
jawabku. “Anggi?? Anggita itu?” balasnya seakan ingin memastikan. “Yups!”
balasku singkat. “Owh, kamu to! Ada apa sms aku?” balasnya. “Nggak
kenapa-kenapa, pengen aja! Ini nomor kamu sendiri?” tanyaku ingin melanjutkan
obrolan namun sayang dia nggak balas sms-ku lagi. Mungkin dia nggak mau sms-an
sama aku, pikirku dalam hati. Baru lima menit kupejamkan mata ini HP-ku berdering.
Satu sms masuk. “Hi, sok tahu! Ini nomornya bapakku, ini ya baru nomorku.” balas
Adit pakai nomor baru dan semenjak itu aku mulai akrab dengannya.
Tak terasa sudah sebulan aku
mengenalnya. Aku mulai merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan. Aku
cemburu jika melihat dia dekat dengan cewek lain. Aku resah jika sehari saja tak
ada kabar darinya. Apaka ini CINTA???? Atau hanya perasaan kagum sesaat saja?
Aku coba melawan perasaan itu namun aku tak sanggup. “Q boleh nanya sama kamu
nggak?” balasku saat kami lagi nggak ada obrolan. “Boleh, silakan!” balasnya.
“Omong-omong, ada cewek yang kamu sukai?” balasku ragu. “Kalau ada memang kenapa?”
balasnya. “Nggak apa-apa, cuma pengen tahu aja, boleh kan?” rayuku. “Boleh,
asal kamu juga ngasih tahu siapa cowok yang kamu sukai, gimana?” balasnya.
“Lho, kok aku juga?” balasku. “Mau nggak? Kalau nggak mau ya sudah!” balasnya
“Ya sudah, aku mau!” balasku. “Terus cowok yang kamu sukai siapa?” tanyanya.
Huh, aku mulai mengetik nama cowok yang aku sukai, semoga saja Adit nggak
kaget, harapku dalam hati. Satu menit menunggu “Beneran kamu suka sama cowok
yang lagi balas sms kamu ni?” balasnya memastikan. “Ya, beneran!” balasku.
“Hehe, dan aku sebenarnya juga suka sama cewek yang lagi baca sms-ku.” balasnya.
“Yang lagi baca sms-mu??? Aku??? tanyaku padanya. “Kalau nggak kamu siapa
lagi?” balasnya. Senangnya aku malam itu. Perasaan yang selama ini aku pendam
akhirnya mendapatkan jawaban. Dan tak sadar status kita berubah dari pertemanan
menjadi HTS alias Hubungan Tanpa status.
J J J J J J
Dua bulan sudah kita menjalani
status HTS dan UAS akhirnya tiba. Selama 6 hari penuh kami menjalani tes untuk
menentukan takdir kami! “Uhh, akhirnya selesai juga!” obrolan kami siap
dimulai. “He’em, setuju! Em aku boleh tanya nggak?” tumben banget dia mau tanya
sesuatu sama aku, pikirku. “Boleh, mau tanya apa?” balasku penasaran. “Kalau
nanti kita nggak sekelas lagi apa kamu bakal setia sama aku?” tanyanya. Aku tak
menyangka dia akan menanyakan itu. “Em ya, aku bakal setia kok sama kamu!”
balasku meyakinkan. “Beneran?” balasnya. “Ya, beneran!” balasku. Kami akhiri
obrolan kami malam itu dengan ucapan ‘Good
Night’.
Lima hari bersenang – senang
merayakan kebebasan, waktu yang mendebarkan pun tiba. Yups, pembagian raport!
Takut dan khawatir itu pasti! Entah peringkat berapa yang akan aku dapatkan aku
tak tahu. “Pah, aku dapat peringkat berapa?” tanyaku pada papaku. “Peringkat
ke-4 lagi!” jawab papaku. “Yach, belum bisa ngabulin keinginan papa!” jawabku
dengan nada sedikit lirih. “Nggak apa-apa, masih ada kesempatan!” jawab papaku
sambil mengelus rambutku. “Hehehe, ok deh pa!” jawabku semangat.
Tiga minggu berlalu. Saatnya
tahun pelajaran baru dan pembagian kelas baru. “Kira-kira aku kelas VIII apa
ya?” curhat Firda padaku. “Halah, kalau nggak VIII-A ya VIII-B, tenang aja!”
sahutku member semangat. Lama menunggu akhirnya pembagian kelas dimulai! Uuh,
Dewi Fortuna tak bersamaku kali ini! Dua sahabatku nggak satu kelas lagi
denganku, aku VIII-B sedangkan mereka VIII-A. Sedih rasanya, namun apa daya aku
tak mampu tuk merubahnya. “Yah, nggak satu kelas lagi deh!” kataku pada Puspita
dan Firda. “Nggak apa-apa, cuma pisah kelas aja kok!” jawab Puspita. “He’em,
jaraknya nggak ada satu meter lagi!” sambung Firda. “Tapi omong – omong Adit
kelas apa?” tanya Puspita padaku. “Owh ya, aku nggak tahu! Keliling yuk, nyari
tahu dia di kelas apa!” ajakku pada Puspita dan Firda. “Nggak ah, aku nggak
ikut, malas!” jawab Firda. “Halah, kamu
ikut nggak mi?? Ikut ya?????” rayuku pada Puspita. “Em ya deh, kita tinggalin
aja Nyai kita yang satu ini.” jawab Puspita. “Hehehe, setuju!”. Kami berlalu
meninggalkan Firda.
“Nggi, Adit di kelas VIII-F!” kata Puspita sambil melambai padaku.
“Nggi, Adit di kelas VIII-F!” kata Puspita sambil melambai padaku.
“Masak? Mana-mana?” jawabku
menyusulnya. Kulihat daftar anak-anak di kelas VIII-F dan benar, ada nama
Aditya. Ah nggak enak! Dan dengan begitu ujian dalam hubungan kami dimulai.
J J J J J
“Uhh, VIII-B lagi, VIII-B lagi!”
kesan pertamaku setelah terlelap dalam tidurku. Aku bergegas mandi. “Anggi,
cepat! Nanti terlambat!” teriak mamaku yang bagaikan jam “beker” berjalanku. Iya mama, bentar lagi!” jawabku sambil mengikat
rambutku. (Ihir, kemajuan!). Setelah selesai aku siap berangkat.
“Mi….!!!” panggilan sayangku buat Puspita. “Ada apa Anggi?” jawabnya. “Kangen!!!” keluhku. “Kangen sama siapa?” tanyanya. “Adit, siapa lagi?!!” jawabku. “Lho, kalian nggak sms-an?” tanyanya lagi. “Nggak! Kabarnya gimana ya?” jawabku sambil memikirkannya. “Ha!!!!” tiba-tiba Firda datang dan mengagetkan kami. “Hayo, ngomongin apa??!! Pagi-pagi kok sudah nggosip!” ejeknya. “Ih, sok tahu!” jawabku. “He’em , aku sama Anggi lagi bahas Adit!” sambung Puspita. “He?? Adit kenapa??” tanya Firda. “Nggak kenapa-kenapa kok!” jawabku. “Begini lho, dia nggak pernah ngabarin Anggi lagi semenjak mereka pisah kelas.” sambung Puspita. “ Owh, hati-hati lho Nggi, jangan-jangan………” goda Firda. “Jangan-jangan apa??” jawabku. “Adit sudah punya cewek lain!” jawabnya meyakinkan. “Ah, nggak mungkin! Aku nggak percaya. “ jawabku gelisah. “Tapi mungkin saja kan?” jawabnya. “Ah, tahu ah! Gelap!” jawabku pertanda aku tak ingin mendengar pendapatnya. Teett!!!!!! Bel masuk sekolah berbunyi. Pelajaran siap dimulai.
“Mi….!!!” panggilan sayangku buat Puspita. “Ada apa Anggi?” jawabnya. “Kangen!!!” keluhku. “Kangen sama siapa?” tanyanya. “Adit, siapa lagi?!!” jawabku. “Lho, kalian nggak sms-an?” tanyanya lagi. “Nggak! Kabarnya gimana ya?” jawabku sambil memikirkannya. “Ha!!!!” tiba-tiba Firda datang dan mengagetkan kami. “Hayo, ngomongin apa??!! Pagi-pagi kok sudah nggosip!” ejeknya. “Ih, sok tahu!” jawabku. “He’em , aku sama Anggi lagi bahas Adit!” sambung Puspita. “He?? Adit kenapa??” tanya Firda. “Nggak kenapa-kenapa kok!” jawabku. “Begini lho, dia nggak pernah ngabarin Anggi lagi semenjak mereka pisah kelas.” sambung Puspita. “ Owh, hati-hati lho Nggi, jangan-jangan………” goda Firda. “Jangan-jangan apa??” jawabku. “Adit sudah punya cewek lain!” jawabnya meyakinkan. “Ah, nggak mungkin! Aku nggak percaya. “ jawabku gelisah. “Tapi mungkin saja kan?” jawabnya. “Ah, tahu ah! Gelap!” jawabku pertanda aku tak ingin mendengar pendapatnya. Teett!!!!!! Bel masuk sekolah berbunyi. Pelajaran siap dimulai.
Malam hari ketika aku sedang
belajar, HP aku berbunyi. Pasti dari Adit, harapku dalam hati. Aku buka sms itu
dan aku salah, ternyata dari nomor yang tidak kukenal. “Hai!” ucapnya padaku.
“Hai juga, ini siapa?” balasku. “Aku Angga.” balasnya. “Angga siapa?” balasku.
“Ya Angga! Aku temannya temanmu!” balasnya. “Temanku siapa?” balasku penasaran.
“Kamu kenal Bintang?” tanyanya. “Kenal, kenapa?” balasku. “Coba saja tanya ke
dia!” balasnya. Karna sudah malam dan aku merasa ngantuk aku tinggalkan rasa
penasaranku.“
“Anggi, bangun! Sudah siang!”teriak mamaku membangunkanku. “Iya mama, ini aku sudah bangun!” jawabku dengan mata setengah tertutup. Seperti biasa, setelah aku siap ibuku mengantarku menunggu bus dan berangkat ke sekolah.
“Bin!!!” teriakku dari kejauhan memanggilnya. “Iya, ada apa manggil-manggil?” jawabnya ketus. “Nggak apa-apa, cuma mau tanya kamu kenal sama yang namanya Angga?” tanyaku. “Owh Angga, kenal lah, dia kan temanku dari kecil. Kenapa? Kamu di sms??” jawabnya. “He’em, kok kamu tahu?” tanyaku. “Iya tahu dong, kemarin dia minta nomor kamu ke aku kok!” ujarnya. “Lho, kok kamu kasih leh?” tanyaku. “Hla dia minta, jadi ya aku kasih. Kalau sms-an jangan aneh-aneh lho!” godanya. “Aneh-aneh gimana? Terus dia kelas 8 apa?” tanyaku. “Cari tahu saja sendiri.” Jawabnya sambil meninggalkanku.
“Anggi, bangun! Sudah siang!”teriak mamaku membangunkanku. “Iya mama, ini aku sudah bangun!” jawabku dengan mata setengah tertutup. Seperti biasa, setelah aku siap ibuku mengantarku menunggu bus dan berangkat ke sekolah.
“Bin!!!” teriakku dari kejauhan memanggilnya. “Iya, ada apa manggil-manggil?” jawabnya ketus. “Nggak apa-apa, cuma mau tanya kamu kenal sama yang namanya Angga?” tanyaku. “Owh Angga, kenal lah, dia kan temanku dari kecil. Kenapa? Kamu di sms??” jawabnya. “He’em, kok kamu tahu?” tanyaku. “Iya tahu dong, kemarin dia minta nomor kamu ke aku kok!” ujarnya. “Lho, kok kamu kasih leh?” tanyaku. “Hla dia minta, jadi ya aku kasih. Kalau sms-an jangan aneh-aneh lho!” godanya. “Aneh-aneh gimana? Terus dia kelas 8 apa?” tanyaku. “Cari tahu saja sendiri.” Jawabnya sambil meninggalkanku.
“Mi, aku dapat kenalan nih!” curhatku pada
Puspita. “Siapa Nggi?” tanyanya. “Aku juga nggak tahu. Katanya namanya sih
Angga. Dia temannya Bintang.” jawabku menjelaskan. “Owh, ya kalau begitu tanya
sama Bintang.” jawabnya memberi saran. “Sudah, tapi aku tanya Angga kelas 8 apa
nggak dikasih tahu!” jawabku. “Iya nanti coba tanya sendiri sama orangnya. “
jawabnya mengutarakan pendapat. “Em ok deh! O ya, kantin yuk! Firda mana?”
tanyaku. “Halah, jangan diganggu dia lagi serius tuh main sama laptopnya. “Owh,
terus gimana? Kita tinggal?” tanyaku. “He’em, kita tinggal saja!” Kami berlalu
meninggalkan ruang kelas. Waktu istirahat pun berakhir! Saatnya pelajaran
dimulai kembali.
“Uhh, capeknya!” ucapku sambil
berbaring di kamarku. Aku membuka HP-ku berharap ada pesan dari Adit, namun
sayang bukan Adit tapi Angga, cowok yang baru aku kenal.
“Met siang, gi ngapain nih?” sms pertamanya. “Siang juga, aku lagi sampai rumah.” balasku. “Owh, omomg-omomg sudah tahu siapa aku?” tanyanya. “Belum, kamu sebenarnya siapa sih?” tanyaku. “Nyerah ya?” balasnya. “He’em deh!” balasku. “Iya sudah aku kasih tahu, aku teman satu kelasmu, namaku Niko Widianggara. “ balasnya. “Owh, kamu! Kenapa nggak jujur dari kemarin?” balasku. “Iya nggak seru lah!” balasnya. Dan semenjak itu hubungan kami semakin akrab seperti aku dan Adit dulu. Kini Niko selalu mewarnai hari-hariku. Selalu hadir dalam “pesan masukku”. Aku merasa nyaman didekatnya. Tuhan, pada siapakah hati ini memilih??? ADIT ATAU NIKO??????
“Met siang, gi ngapain nih?” sms pertamanya. “Siang juga, aku lagi sampai rumah.” balasku. “Owh, omomg-omomg sudah tahu siapa aku?” tanyanya. “Belum, kamu sebenarnya siapa sih?” tanyaku. “Nyerah ya?” balasnya. “He’em deh!” balasku. “Iya sudah aku kasih tahu, aku teman satu kelasmu, namaku Niko Widianggara. “ balasnya. “Owh, kamu! Kenapa nggak jujur dari kemarin?” balasku. “Iya nggak seru lah!” balasnya. Dan semenjak itu hubungan kami semakin akrab seperti aku dan Adit dulu. Kini Niko selalu mewarnai hari-hariku. Selalu hadir dalam “pesan masukku”. Aku merasa nyaman didekatnya. Tuhan, pada siapakah hati ini memilih??? ADIT ATAU NIKO??????
J J J J J
“Mami!!!! Bingung sah mi!!!”
kebiasaanku tiap pagi. Yaps, curhat ke mami Puspita. “Bingung kenapa to??” tanyanya.
“Kalau kamu jadi aku, kamu bakal milih Niko atau Adit?” tanyaku. “Ya nggak tahu
ya, mereka berdua kan nggak tipeku.” jawabnya santai. “Halah mi, ini kan cuma
seandainya!” jawabku. “Hayo, lagi ngomongin apa leh?? Aku ditinggal terus!” ucap
Firda mengganggu pembicaraan kami. “Salahmu berangkatnya siang!” jawab Puspita.
“Fir, kalau kamu jadi aku kamu bakal pilih siapa? Adit atau Niko?” tanyaku pada
Firda berharap memperoleh jawaban pasti. “Kalau aku sih milih Niko!” jawabnya.
“Alasannya?” tanyaku. “Menurutku dia orangnya baik, asyik, tinggi, pintar lagi!”
jawabnya. “Owh nggak bisa, kalau aku mending Adit1” sambung Puspita. “Alasannya
mi?” tanyaku. “Em gimana ya?? Kalau dilihat kamu sama Adit itu cocok gitu!”
jawabnya. “ Lho, kan dari luar. Coba dari dalam, Adit sama Anggi itu berbeda
1800!” sambung Firda. “Iya karna beda itu biar saling mengisi. “
jawab Puspita tak mau kalah. “Eh, sudah ah, malah debat sendiri!” sambungku.
“Hehe, lha terus kamu mau milih siapa?” tanya Firda dan Puspita. “Nggak tahu
ya, lihat saja ntar!” jawabku. Bel masuk sekolah berbunyi. Kita akhiri obrolan
kami pagi itu dan memulai pelajaran.
“Assalamu’alaikum!!!” ucapku sesampainya dirumah. “Wa’alaikumsalam!!1” jawab mamaku. Setelah shalat dan berganti pakaian saatnya isirahat. “Mungkin nggak ya Adit sms aku?” pikirku dalam hati. Baru sejenak memikirkan Adit, satu sms datang. Nomor baru lagi! “Hai!” ucapnya.
“Assalamu’alaikum!!!” ucapku sesampainya dirumah. “Wa’alaikumsalam!!1” jawab mamaku. Setelah shalat dan berganti pakaian saatnya isirahat. “Mungkin nggak ya Adit sms aku?” pikirku dalam hati. Baru sejenak memikirkan Adit, satu sms datang. Nomor baru lagi! “Hai!” ucapnya.
“Hai juga, ini siapa? jawabku. “Aku teman waktu SD-mu.”
balasnya. “ Iya, siapa??” tanyaku. “Aku Riski! Masih ingat?” balasnya.
Riski????? Cinta Monyetku dulu???? Setelah 2 tahun tak pernah berkomunikasi
kini dia sms aku. “Owh, ya aku masih ingat kok! Omong-omong dapat nomor aku
dari siapa?” tanyaku. “Ya rahasia, mau tahu aja!” balasnya bercanda. Yaps, kini
Riski “rajin” sms-ku seperti Niko. “Sudah
punya cowok belum?” tanyanya padaku. “Belum, kenapa?”jawabku. “Boleh nggak aku
daftar?” balasnya. “Maksud kamu?” balasku. “Ya daftar jadi cowok kamu, boleh
nggak?” balasnya. “Em tak tahu ya!!! Ya udah aku mau les dulu, Bye!!!” balasku.
Uhh, malas ah sms-an sama dia, pikirku dalam hati. Baru mengakhiri sms-an dengan
Riski, satu sms masuk lagi ke HP ku! Yaps, dari Niko. ”Hai, gi ngapain nih?”
sms pertamanya. “Hai juga, aku lagi nggak ngapa-ngapain kok!” balasku. “Masak
sih? Nggak lagi sms-an?” balasnya. “Tadi udah, baru saja selesai. “ balasku.
“Owh, memangnya tadi sms-an sama siapa?” tanyanya. “Sama Riski. “ balasku.
“Riski?? Siapa tuh?” balasnya. “Dia temanku, em lebih tepatnya mantan orang
yang aku sukai. “ jawabku blak-blakan. Tanpa
kusadari aku menceritakan semua masa laluku pada Niko. “Owh, jadi dulu dia
pernah nyakitin kamu to!” tanyanya memastikan. “ Iya begitulah. “ jawabku. “Ya
sudahlah, itu kan sudah berlalu, mendingan kita bahas yang lain saja!”
balasnya. Dan kami mengganti obrolan kami.
J J J J J
“Bangun!!!! Sudah pagi!!!” sms
dari Niko yang mengagetkanku. “Ah, ganggu orang tidur saja.” pikirku. “Iya, ini
aku sudah bangun!” balasku. “Sudah shalat belum?” tanyanya.”Hehehe, belum!”
balasku sedikit malu. “Ya sudah, buruan shalat dulu!” balasnya. Yeah, itulah
sikap yang kusukai dari dia, menjadi sosok seorang kakak bagiku. “Ya deh, aku
shalat dulu ya!!” balasku. “He’em, kalau sudah sms ya!” “Ini aku sudah selesai
shalat!” sms-ku utuknya setelah 7 menit ia menunggu. “Owh, bagus deh! Pagi-pagi
gini enaknya ngobrolin apa ya?” balasnya. Dan obrolan kami siap dimulai.
Hari Minggu pun berlalu dan
berganti Hari Senin. Aku menjalani hari-hari disekolah seperti biasa! Teettt!!!
Bel pulang sekolah berbunyi, saatnya pulang! Sesampainya dirumah hal yang
kulakukan adalah menghampiri HP kesayanganku. “Dapat sms nggak ya?? tanyaku
dalam hati. Setelah kubuka ternyata Riski udah sms aku. “Udah pulang sekolah
belum?” tanyanya. “Sudah, ini baru sampai rumah!” balasku. “Baru sejenak
ngobrol sama Riski, Niko sms aku. “ Met siang, lagi ngapain?” “Met siang juga,
aku lagi mijitin HP, kamu sendiri?” balasku. “Sama, kamu lagi sms-an sama
siapa?” tanyanya. “Sama kamu & Riski, kalau kamu?” balasku. “Owh, kalau aku
sama cewek yang aku suka.” Balasnya. “Wih, siapa tuh?” tanyaku. “Nggak
siapa-siapa kok!” balasnya. “ Halah, kasih tahu dong!!” pintaku. “Aku belum
siap kok!” balasnya. “Yang tahu kan cuma aku, aku janji nggak bakal bocor deh.
“ rayuku. “Ya sudah, tapi jangan kaget ya!” balasnya. “OK, ;-)” balasku. “Em
sebenarnya aku suka kamu sejak kita pertama kenal. Kalau boleh aku ingin
menjadi lebih dari sekadar teman buat kamu. Gimana?? “ O’ooooo!!!!!! Apa yang harus aku lakukan? Aku
suka Niko tapi aku juga masih suka Adit. Namun apa boleh buat, mungkin Tuhan
mengirim Niko untukku buat menggantikan Adit. Adit, ma’afin aku, aku tak bisa
memenuhi janjiku padamu dulu. Good Bye for You!!! Dan buat Niko, “Em kalau itu
memang mau kamu, kita jalani saja.” Dan
semenjak malam itu aku resmi melepas status “jomblo”.
Waktu berlalu begitu cepat. Tiga
bulan sudah aku menjalani hubungan dengan Niko. Segalanya terasa indah. Aku
mulai belajar untuk benar-benar menyukainya dan perlahan melupakan Adit. Aku
dan dia selalu bersama. Apalagi kita satu kelas, jadi banyak kesempatan deh! Hingga suatu hari terjadi sesuatu yang
tak kuduga. “Hai…!!” sms pertama dari nomor yang tak kukenal. “Hai juga, siapa
nih?” balasku. “Lupa sama aku ya??” balasnya. “Bukane lupa tapi memang nggak
tahu.” balasku. “Coba deh ingat-ingat!” balasnya. “Nggak tahu, kasih tahu
langsung saja deh!” paksaku. “Ya sudah, aku Adit! Aditya Prasetyo Putra.”
Deg….!!! Senang rasanya Adit sms aku lagi. Namun sayang aku tak bisa menyukainya
seperti dulu karna aku sudah ada yang punya. “Owh, kamu! Aku kira sudah lupa
sama aku.” balasku. “Nggak kok. Omong-omong kamu sudah punya cowok ya?”
tanyanya. “Kok kamu tahu?” balasku. “Tahu dong, semoga langgeng ya sama cowokmu!”
sms terakhirnya untukku. Uhh, merasa bersalah deh! Hampir saja aku melupakannya
kini dia hadir kembali dalam kehidupanku.
Kenapa harus pada waktu ini? Ya sudahlah, mungkin ini adalah tes untuk menguji
kesetiaanku pada Niko.
Keesokan harinya aku ceritakan
semua pada 2 sahabatku. Yaps, Puspita dan Firda. “Mi, tadi malam Adit sms aku!”
curhatku. “Masak sih? Bagus dong! Terus-terus????” tanyanya nggak sabar. “Ya
biasa saja, cuma bentar kok!” jawabku. “Wah kamu bisa pendekatan lagi dong sama
dia!” godanya. “Kamu lupa ya? Aku kan sudah punya. “ jawabku. “Owh ya, sulit
juga ya di posisimu!” sambung Firda. “Lha iya, gimana nih? Ada yang punya saran
nggak buat aku?” tanyaku. “Nggak tahu ah! Salah kamu sendiri serakah, sudah
punya masih saja nyari lagi!” ejek Firda. Siapa yang nyari lagi! Salah sendiri
tiba-tiba dia menghilang.” jawabku. “Sudah-sudah! Begini Nggi, sebagai
sahabatmu aku cuma bisa nyaranin kamu memilih cowok yang benar-benar kamu
sukai. Kalau kamu memang masih suka sama Adit putusin Niko, tapi kalau kamu
suka sama Niko lupain Adit pelan-pelan. Kasihan kan dia kalau kamu jadiin dia
sebagai pelarianmu. “ ujar Puspita bijaksana. “Wih, mami Pus!!! Kata-katanya ’menakutkan’! Dapat copy-an darimana ya?”
ejekku. “Hahaha, dari sinetron pasti!” sambung Firda. “Ngejekmu itu lho!!”
jawabnya pasrah. “Nggak kok mi, ya deh, makasih buat sarannya.” jawabku. Lha terus kamu milih siapa?” tanya Firda. “Em
tak tahu lah, mungkin Niko!” jawabku sambil menghela napas. Bel sekolah berbunyi.
Pelajaran siap dimulai.
Waktu berjalan dan terus
berjalan. Hari demi hari aku lalui dengan rasa kebimbangan. Aku semakin takut
tak bisa melupakan Adit. Hingga suatu malam Tuhan menjawab semua keluhan dan
kebimbanganku.
“Adek, ada yang mau kakak omongin!” sms pertama dari Niko yang tak tahu kenapa membuatku merasa lega. “Boleh, ngomong saja kak!” balasku. “Ma’afin kakak, kakak nggak bisa nglanjutin hubungan ini lagi!” Oh My God! Benarkah dia mengucapkan itu setelah dia bejanji akan selalu bersamaku? “Tapi kenapa kak?” tanyaku meminta penjelasan. “Orang tua kakak mengetahui hubungan kita dan mereka ingin kakak berkonsentrasi dulu sama sekolah. Ma’afin kakak ya dek, kakak harap dewasa nanti kita bisa bersama lagi.” balasnya meyakinkan. Sejujurnya aku tak tahu apa yang kurasakan. Yang aku tahu setiap cewek yang berada diposisiku pasti akan merasakan sakit hati. Namun aku tidak. Tak ada rasa sakit, sedih ataupun perih. Sudahlah, mungkin aku sedikit berbeda dan statusku berubah kembali. Yaps, sebagai “jomblowati”.
“Adek, ada yang mau kakak omongin!” sms pertama dari Niko yang tak tahu kenapa membuatku merasa lega. “Boleh, ngomong saja kak!” balasku. “Ma’afin kakak, kakak nggak bisa nglanjutin hubungan ini lagi!” Oh My God! Benarkah dia mengucapkan itu setelah dia bejanji akan selalu bersamaku? “Tapi kenapa kak?” tanyaku meminta penjelasan. “Orang tua kakak mengetahui hubungan kita dan mereka ingin kakak berkonsentrasi dulu sama sekolah. Ma’afin kakak ya dek, kakak harap dewasa nanti kita bisa bersama lagi.” balasnya meyakinkan. Sejujurnya aku tak tahu apa yang kurasakan. Yang aku tahu setiap cewek yang berada diposisiku pasti akan merasakan sakit hati. Namun aku tidak. Tak ada rasa sakit, sedih ataupun perih. Sudahlah, mungkin aku sedikit berbeda dan statusku berubah kembali. Yaps, sebagai “jomblowati”.
Semenjak kejadian itu, aku dan
Niko tak pernah berkomunikasi. Walau kami satu kelas seakan tak terjadi
apa-apa. Semua heran! “Nggi!!” panggil salah satu temanku. “Iya, ada apa?”
jawabku memalingkan badan. “Sekarang kamu sama Niko nggak pernah bareng lagi
kenapa? Lagi ada masalah?” tanyanya. “Nggak ada kok!” jawabku. “Lha terus?”
jawabnya meminta kepastian. “Aku dan dia kan sudah putus.” jawabku dengan nada
lemah lembut. “He????????? Masak sih????? Kok bisa??” jawabnya mengagetkanku.
“Halah, biasa saja lagi! Untuk lebih jelasnya tanya sama Niko, OK!” jawabku dan
beranjak meninggalkannya.
“Uhh, bentar lagi UAS nih! Harus
belajar sungguh-sungguh!” pikirku. Sekarang aku jarang sekali mijitin HP kecuali dalam situasi
penting. Yeah, aku lebih berkonsentrasi pada sekolahku dulu.
Selama 6 hari penuh aku menjalani tes, dan akhirnya………..”Merdeka”!!!! UAS pun berakhir, saatnya bersenang-senang. Lega rasanya. Tinggal menunggu hasilnya.
“Assalamu’alaikum!! Ma, aku pulang!” ucapku memasuki rumahku. “Wa’alaikumsalam! Sudah pulang Nggi?” jawab mamaku. “Sudah ma!” jawabku sambil menaruh tasku dikamar. “Ya sudah, ganti baju langsung makan! Mama masakin ayam goreng kesukaanmu!” ujar mamaku. “Hore, makan ayam goreng!” jawabku bersemangat. Kebetulan hari ini aku lagi ‘libur’, jadi nggak shalat deh! Setelah makan siang, aku bergegas menonton TV. “Sudah seminggu ini HP-ku sepi banget leh!” gumamku dalam hati. Baru sebentar mengeluh akhirnya satu sms masuk. Hatiku bertanya-tanya, kira-kira dari siapa ya??? Dan ternyata,, dari Adit. “Hai…!!!” sms pertamanya untukku. Senangnya aku, akhirnya dia sms aku lagi. “Hai juga!!” balasku. “Gi ngapain?” tanyanya. “Lagi nonton TV, kamu sendiri?” balasku. “Sama, aku juga!” Kini aku dan dia mulai akrab lagi seperti dulu.
Selama 6 hari penuh aku menjalani tes, dan akhirnya………..”Merdeka”!!!! UAS pun berakhir, saatnya bersenang-senang. Lega rasanya. Tinggal menunggu hasilnya.
“Assalamu’alaikum!! Ma, aku pulang!” ucapku memasuki rumahku. “Wa’alaikumsalam! Sudah pulang Nggi?” jawab mamaku. “Sudah ma!” jawabku sambil menaruh tasku dikamar. “Ya sudah, ganti baju langsung makan! Mama masakin ayam goreng kesukaanmu!” ujar mamaku. “Hore, makan ayam goreng!” jawabku bersemangat. Kebetulan hari ini aku lagi ‘libur’, jadi nggak shalat deh! Setelah makan siang, aku bergegas menonton TV. “Sudah seminggu ini HP-ku sepi banget leh!” gumamku dalam hati. Baru sebentar mengeluh akhirnya satu sms masuk. Hatiku bertanya-tanya, kira-kira dari siapa ya??? Dan ternyata,, dari Adit. “Hai…!!!” sms pertamanya untukku. Senangnya aku, akhirnya dia sms aku lagi. “Hai juga!!” balasku. “Gi ngapain?” tanyanya. “Lagi nonton TV, kamu sendiri?” balasku. “Sama, aku juga!” Kini aku dan dia mulai akrab lagi seperti dulu.
Waktu yang paling mendebarkan pun
tiba! Yaps, pembagian raport. “Kira-kira aku peringkat berapa ya??” pikirku.
Lama menunggu akhirnya papaku keluar. “Pa, dapat peringkat berapa?” tanyaku
gelisah. “Selamat ya, anak papa dapat peringkat ke-2!” jawab papaku. “Beneran?
Ye…!!! Akhirnya bisa ngabulin permintaan papa!” jawabku kegirangan. “Ya, tapi
kalau bisa ditingkatkan lagi, OK!” ucap papaku sembari mencubit pipiku. “OK
pa!!” jawabku sambil mengacungkan jempol. Tiga minggu berada dirumah akhirnya
masa sekolah pun dimulai kembali. “Nanti aku dikelas 9 apa ya??” tanyaku pada 2
sahabatku. “He’em, kira-kira kita satu kelas nggak ya?” sambung Puspita. “Ya,
semoga saja kita satu kelas.” jawab Firda. “O ya, ngomong-ngomong kamu sama
Adit gimana?” tanya Puspita kepadaku. “Nggak gimana-gimana.” jawabku sambil
tersenyum. “Hayo, gimana leh?” tanya Firda. “Halah, ya gitu ah, bisa dibilang
kita mulai dekat lagi.” jawabku malu-malu. Baru sejenak mengobrol pembagian
kelas dimulai. Aku, Firda, dan Puspita mencari-cari nama kami dan……. Yeah, kami
satu kelas!! “Hore”!!!! teriak kami bertiga. Senangnya aku berada satu kelas
lagi sama 2 sahabat kesayanganku itu, tepatnya dikelas 9B!
Tiga bulan sudah aku menempati
kelas 9B dan selama itu pula aku mengenal kembali sosok Adit. Dan ternyata
penyebab dulu dia nggak pernah hubungin aku gara-gara dia kehilangan nomor HP
aku. Bodohnya aku berpikir negatif tentangnya. Andaikan waktu bisa diputar kembali.
Namun sudahlah, semua telah terjadi. Toh, sekarang aku dan Adit akrab seperti
dulu.
“Kalau aku bisa kamu kasih apa?” balas Adit
yang semula aku tak tahu kita lagi bahas apa! “Aku turutin yang kamu minta
deh!” balasku. “Yakin?” “Yakin!” jawabku. “Beneran?” “Beneran!” jawabkku. “Kalau
begitu aku minta…….” Balasnya membuatku penasaran. “Minta apa? Mumpung aku
belum tidur nih!” balasku tak sabar. “Ya deh, aku minta kita jalani hubungan
kita lebih serius lagi, mungkin dengan kamu jadi cewek aku.” Ye,, akhirnya
sesuatu yang aku impikan terjadi. Adit mengungkapkan perasaannya padaku. Bahagianya
aku malam itu!! Aku mulai mengetik jawabanku untuknya dan aku yakin jawabanku
dapat membahagiakannya.
“Semoga aku dan dia selalu
bersama, dikala suka maupun duka.”
Adit, kutitipkan hati ini kepadamu J
Adit, kutitipkan hati ini kepadamu J

0 komentar: