• He has a sweet smile


    Berawal dari
    “He has a sweet smile”
    Kring!!! Waktu berdering menunjukkan pukul 5 pagi. Hari ini, tepatnya 13 Juli 2009 aku resmi melepas seragam putih merahku dan berganti putih biru. Setelah melaksanakan kewajibanku sebagai umat Islam aku langsung bergegas mandi. “Ma, tolong iketin rambut aku dong!” teriakku pada mamaku. “Udah SMP kok belum bias ngiket rambut!”ejek mamaku. “Nggak apa – apalah, kan masih ada mama!” rayuku dengan senyum manisku. Setelah rambutku yang agak bergelombang nggak jelas ini diiket dan dipita rapi aku siap berangkat ke sekolah! Yups, tepatnya SMP Negeri 1 Pati. Tepat pukul 05.50 mamaku siap mengantarku sampai gang rumah dan setia menemaniku menanti bus yang biasa menjemputku. Lama menunggu akhirnya bus yang kunanti pun tiba. “Ma, aku berangkat dulu ya!” izinku pada mamaku. “Ya, hati-hati!” jawab mamaku.
    J J J J J J      
    Hari pertama bersekolah semua nampak asing bagiku. Memang benar perkataan orang tuaku, semua butuh waktu dan yang pasti adaptasi. Apapun keadaannya pastikan kita menikmatinya! Itulah motto hidupku! (Kayak masakan aja pakai motto!). Setelah lima menit berkeliling akhirnya kutemukan kelasku, kelas VII-B. Dari 24 siswa hanya seorang siswa yang kukenal dan dia teman sebangkuku, namanya Ira Anggreni . Oke, pelajaran pertamaku siap dimulai!
    Tiga bulan berlalu. Aku cukup akrab dengan teman-teman satu kelasku dan telah kutemukan sosok sahabat. Mereka adalah Puspita Dewi Oktorani dan Firda Nasya Safira.
    “Morning student’s!” salam miss Risma saat memasuki kelas VII-B. “Morning miss!” jawab kami serempak. “Okay, today we will discuss about Descriptive Text!”. Miss Risma menerangkan materi tersebut dengan sangat jelas. “Any question? ” Tanya miss Risma. “No!” jawab kami. “Okay, I will give you a task. Please make description about your classmate!”. “Terserah miss???” Tanya salah satu temanku. “Ya tidak, saya akan membaginya sekarang!”. Miss Risma mulai mengumumkan pembagian tugas dan tak lama kemudian “Terakhir Anggita Oktaviani Putri mendiskripsikan Aditya Prasetyo Putra…! Okay, any question again??” Tanya miss Risma “Presentasinya kapan miss? “ tanyaku.“Presentasinya kita mulai minggu depan!”
    “Pus, menurutmu Adit orangnya gimana?” tanyaku pada puspita. “Menurutku dia itu pendiam dan pemalas, dia kan jarang ngerjain tugas.” Jawabnya. “Ya sih, tapi masak aku sejujur itu? Kan kasihan!” jawabku. “Ya juga ya! Alah pikirin besok aja deh, masih ada waktu seminggu kok! Mending kita ke kantin!” ajaknya. Kami berjalan menuju kantin.
    Waktu presentasi pun tiba, saatnya maju satu-persatu. Menunggu cukup lama akhirnya giliranku tiba! “Hello Guys, on this occasion I’d like to tell you about my classmate. His name’s Aditya Prasetyo Putra…” Semua nampak biasa mendengarkan deskripsiku, namun ketika aku berkata “Although he doesn’t a handsome boy but he has a sweet smile.” Semua bersorak “Cie,,,!!! Ckcyw!!!”
    Haduh, apa aku salah?? Ah ntah benar atau salah aku tak tahu, yang pasti kejadian memalukan kulakukan hari ini. “Ciee,, Anggi!” goda Firda yang emang hobinya ngisengin orang. “Ngapain ciee-ciee??” tanyaku ketus. “Alah, ‘but he has a sweet smile’!” ejeknya menirukan ucapanku. “Mangnya kenapa kalau aku bilang gitu?” jawabku. “Nggak, nggak kenapa-kenapa!” jawabnya dengan senyum yang tidak biasa. “Udah deh jangan dibahas lagi, mending kita ke kantin!” ajakku mengalihkan pembicaraan. “Ah, sebel!!!!!” teriakku dalam kamar sambil kupeluk guling kesayanganku. Namun setelah hari itu kuakui semua terasa berubah. Aku mulai memikirkannya . Ada sedikit rasa ‘penasaran’ untuknya dan tak sengaja terlintas di benakku untuk  mencoba lebih mengenalnya.
    “Mi, kira-kira yang punya nomornya Adit siapa ya??” tanyaku pada mami Puspita, panggilan sayangku untuknya. “Emang kenapa kamu nyari nomornya Adit?” tanyanya sedikit penasaran. “Nggak kenapa-kenapa, cuma mau ngerjain doang!” jawabku. “Owh, mungkin Wahyu Pratama punya deh, dia kan teman dekatnya Adit.” jawabnya. “Em ya deh, nanti tak nyoba nanya.” Teet!!!! Bel masuk sekolah berbunyi dan itu tandanya pelajaran hari ini siap dimulai.
    J J J J J J
    Sesampainya di rumah hal yang pertama aku lakukan adalah sms Wahyu. “Wahyu, punya nomornya Adit nggak?” tanyaku ‘blak-blakan’ padanya. “Punya, ada apa?” jawabnya singkat. “Boleh minta?” balasku. “Buat apa?” tanyanya. “Buat koleksi kok!” jawabku. “Em ok, aku kasih. Tunggu bentar ya!” balasnya. Tak lama menunggu akhirnya aku punya nomornya Adit. Congratulation!!!! “Thanks ya!” sms terakhirku buat Wahyu. Tepat malam minggu aku putusin buat sms dia. “Hai!!” pesan pertamaku buat dia. “Hai juga, siapa ini?” balasnya. “Tebak dulu dong!” godaku. “Alah, kamu siapa leh?” tanyanya memaksa. Karna dia selalu memaksa akhirnya aku memberi tahu namaku sebenarnya. “Ya deh, aku Anggi!” jawabku. “Anggi?? Anggita itu?” balasnya seakan ingin memastikan. “Yups!” balasku singkat. “Owh, kamu to! Ada apa sms aku?” balasnya. “Nggak kenapa-kenapa, pengen aja! Ini nomor kamu sendiri?” tanyaku ingin melanjutkan obrolan namun sayang dia nggak balas sms-ku lagi. Mungkin dia nggak mau sms-an sama aku, pikirku dalam hati. Baru lima menit kupejamkan mata ini HP-ku berdering. Satu sms masuk. “Hi, sok tahu! Ini nomornya bapakku, ini ya baru nomorku.” balas Adit pakai nomor baru dan semenjak itu aku mulai akrab dengannya.
    Tak terasa sudah sebulan aku mengenalnya. Aku mulai merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan. Aku cemburu jika melihat dia dekat dengan cewek lain. Aku resah jika sehari saja tak ada kabar darinya. Apaka ini CINTA???? Atau hanya perasaan kagum sesaat saja? Aku coba melawan perasaan itu namun aku tak sanggup. “Q boleh nanya sama kamu nggak?” balasku saat kami lagi nggak ada obrolan. “Boleh, silakan!” balasnya. “Omong-omong, ada cewek yang kamu sukai?” balasku ragu. “Kalau ada memang kenapa?” balasnya. “Nggak apa-apa, cuma pengen tahu aja, boleh kan?” rayuku. “Boleh, asal kamu juga ngasih tahu siapa cowok yang kamu sukai, gimana?” balasnya. “Lho, kok aku juga?” balasku. “Mau nggak? Kalau nggak mau ya sudah!” balasnya “Ya sudah, aku mau!” balasku. “Terus cowok yang kamu sukai siapa?” tanyanya. Huh, aku mulai mengetik nama cowok yang aku sukai, semoga saja Adit nggak kaget, harapku dalam hati. Satu menit menunggu “Beneran kamu suka sama cowok yang lagi balas sms kamu ni?” balasnya memastikan. “Ya, beneran!” balasku. “Hehe, dan aku sebenarnya juga suka sama cewek yang lagi baca sms-ku.” balasnya. “Yang lagi baca sms-mu??? Aku??? tanyaku padanya. “Kalau nggak kamu siapa lagi?” balasnya. Senangnya aku malam itu. Perasaan yang selama ini aku pendam akhirnya mendapatkan jawaban. Dan tak sadar status kita berubah dari pertemanan menjadi HTS alias Hubungan Tanpa status.
    J J J J J J
    Dua bulan sudah kita menjalani status HTS dan UAS akhirnya tiba. Selama 6 hari penuh kami menjalani tes untuk menentukan takdir kami! “Uhh, akhirnya selesai juga!” obrolan kami siap dimulai. “He’em, setuju! Em aku boleh tanya nggak?” tumben banget dia mau tanya sesuatu sama aku, pikirku. “Boleh, mau tanya apa?” balasku penasaran. “Kalau nanti kita nggak sekelas lagi apa kamu bakal setia sama aku?” tanyanya. Aku tak menyangka dia akan menanyakan itu. “Em ya, aku bakal setia kok sama kamu!” balasku meyakinkan. “Beneran?” balasnya. “Ya, beneran!” balasku. Kami akhiri obrolan kami malam itu dengan ucapan ‘Good Night’.
    Lima hari bersenang – senang merayakan kebebasan, waktu yang mendebarkan pun tiba. Yups, pembagian raport! Takut dan khawatir itu pasti! Entah peringkat berapa yang akan aku dapatkan aku tak tahu. “Pah, aku dapat peringkat berapa?” tanyaku pada papaku. “Peringkat ke-4 lagi!” jawab papaku. “Yach, belum bisa ngabulin keinginan papa!” jawabku dengan nada sedikit lirih. “Nggak apa-apa, masih ada kesempatan!” jawab papaku sambil mengelus rambutku. “Hehehe, ok deh pa!” jawabku semangat.
    Tiga minggu berlalu. Saatnya tahun pelajaran baru dan pembagian kelas baru. “Kira-kira aku kelas VIII apa ya?” curhat Firda padaku. “Halah, kalau nggak VIII-A ya VIII-B, tenang aja!” sahutku member semangat. Lama menunggu akhirnya pembagian kelas dimulai! Uuh, Dewi Fortuna tak bersamaku kali ini! Dua sahabatku nggak satu kelas lagi denganku, aku VIII-B sedangkan mereka VIII-A. Sedih rasanya, namun apa daya aku tak mampu tuk merubahnya. “Yah, nggak satu kelas lagi deh!” kataku pada Puspita dan Firda. “Nggak apa-apa, cuma pisah kelas aja kok!” jawab Puspita. “He’em, jaraknya nggak ada satu meter lagi!” sambung Firda. “Tapi omong – omong Adit kelas apa?” tanya Puspita padaku. “Owh ya, aku nggak tahu! Keliling yuk, nyari tahu dia di kelas apa!” ajakku pada Puspita dan Firda. “Nggak ah, aku nggak ikut, malas!”  jawab Firda. “Halah, kamu ikut nggak mi?? Ikut ya?????” rayuku pada Puspita. “Em ya deh, kita tinggalin aja Nyai kita yang satu ini.” jawab Puspita. “Hehehe, setuju!”. Kami berlalu meninggalkan Firda.
    “Nggi, Adit di kelas VIII-F!” kata Puspita sambil melambai padaku.
    “Masak? Mana-mana?” jawabku menyusulnya. Kulihat daftar anak-anak di kelas VIII-F dan benar, ada nama Aditya. Ah nggak enak! Dan dengan begitu ujian dalam hubungan kami dimulai.
    J J J J J
    “Uhh, VIII-B lagi, VIII-B lagi!” kesan pertamaku setelah terlelap dalam tidurku. Aku bergegas mandi. “Anggi, cepat! Nanti terlambat!” teriak mamaku yang bagaikan jam “beker” berjalanku. Iya mama, bentar lagi!” jawabku sambil mengikat rambutku. (Ihir, kemajuan!). Setelah selesai aku siap berangkat.
    “Mi….!!!” panggilan sayangku buat Puspita. “Ada apa Anggi?” jawabnya. “Kangen!!!” keluhku. “Kangen sama siapa?” tanyanya. “Adit, siapa lagi?!!” jawabku. “Lho, kalian nggak sms-an?” tanyanya lagi. “Nggak! Kabarnya gimana ya?” jawabku sambil memikirkannya. “Ha!!!!” tiba-tiba Firda datang dan mengagetkan kami. “Hayo, ngomongin apa??!! Pagi-pagi kok sudah nggosip!” ejeknya. “Ih, sok tahu!” jawabku. “He’em , aku sama Anggi lagi bahas Adit!” sambung Puspita. “He?? Adit kenapa??” tanya Firda. “Nggak kenapa-kenapa kok!” jawabku. “Begini lho, dia nggak pernah ngabarin Anggi lagi semenjak mereka pisah kelas.” sambung Puspita. “ Owh, hati-hati lho Nggi, jangan-jangan………” goda Firda. “Jangan-jangan apa??” jawabku. “Adit sudah punya cewek lain!” jawabnya meyakinkan. “Ah, nggak mungkin! Aku nggak percaya. “ jawabku gelisah. “Tapi mungkin saja kan?” jawabnya. “Ah, tahu ah! Gelap!” jawabku pertanda aku tak ingin mendengar pendapatnya. Teett!!!!!! Bel  masuk sekolah berbunyi. Pelajaran siap dimulai.
    Malam hari ketika aku sedang belajar, HP aku berbunyi. Pasti dari Adit, harapku dalam hati. Aku buka sms itu dan aku salah, ternyata dari nomor yang tidak kukenal. “Hai!” ucapnya padaku. “Hai juga, ini siapa?” balasku. “Aku Angga.” balasnya. “Angga siapa?” balasku. “Ya Angga! Aku temannya temanmu!” balasnya. “Temanku siapa?” balasku penasaran. “Kamu kenal Bintang?” tanyanya. “Kenal, kenapa?” balasku. “Coba saja tanya ke dia!” balasnya. Karna sudah malam dan aku merasa ngantuk aku tinggalkan rasa penasaranku.“
    “Anggi, bangun! Sudah siang!”teriak mamaku membangunkanku. “Iya mama, ini aku sudah bangun!” jawabku dengan mata setengah tertutup. Seperti biasa, setelah aku siap ibuku mengantarku menunggu bus dan berangkat ke sekolah.
    “Bin!!!” teriakku dari kejauhan memanggilnya. “Iya, ada apa manggil-manggil?” jawabnya ketus. “Nggak apa-apa, cuma mau tanya kamu kenal sama yang namanya Angga?” tanyaku. “Owh Angga, kenal lah, dia kan temanku dari kecil. Kenapa? Kamu di sms??” jawabnya. “He’em, kok kamu tahu?” tanyaku. “Iya tahu dong, kemarin dia minta nomor kamu ke aku kok!” ujarnya. “Lho, kok kamu kasih leh?” tanyaku. “Hla dia minta, jadi ya aku kasih. Kalau sms-an jangan aneh-aneh lho!” godanya. “Aneh-aneh gimana? Terus dia kelas 8 apa?” tanyaku. “Cari tahu saja sendiri.” Jawabnya sambil meninggalkanku.
     “Mi, aku dapat kenalan nih!” curhatku pada Puspita. “Siapa Nggi?” tanyanya. “Aku juga nggak tahu. Katanya namanya sih Angga. Dia temannya Bintang.” jawabku menjelaskan. “Owh, ya kalau begitu tanya sama Bintang.” jawabnya memberi saran. “Sudah, tapi aku tanya Angga kelas 8 apa nggak dikasih tahu!” jawabku. “Iya nanti coba tanya sendiri sama orangnya. “ jawabnya mengutarakan pendapat. “Em ok deh! O ya, kantin yuk! Firda mana?” tanyaku. “Halah, jangan diganggu dia lagi serius tuh main sama laptopnya. “Owh, terus gimana? Kita tinggal?” tanyaku. “He’em, kita tinggal saja!” Kami berlalu meninggalkan ruang kelas. Waktu istirahat pun berakhir! Saatnya pelajaran dimulai kembali.
    “Uhh, capeknya!” ucapku sambil berbaring di kamarku. Aku membuka HP-ku berharap ada pesan dari Adit, namun sayang bukan Adit tapi Angga, cowok yang baru aku kenal.
    “Met siang, gi ngapain nih?” sms pertamanya. “Siang juga, aku lagi sampai rumah.” balasku. “Owh, omomg-omomg sudah tahu siapa aku?” tanyanya. “Belum, kamu sebenarnya siapa sih?” tanyaku. “Nyerah ya?” balasnya. “He’em deh!”  balasku. “Iya sudah aku kasih tahu, aku teman satu kelasmu, namaku Niko Widianggara. “ balasnya. “Owh, kamu! Kenapa nggak jujur dari kemarin?” balasku. “Iya nggak seru lah!” balasnya. Dan semenjak itu hubungan kami semakin akrab seperti aku dan Adit dulu. Kini Niko selalu mewarnai hari-hariku. Selalu hadir dalam “pesan masukku”. Aku merasa nyaman didekatnya. Tuhan, pada siapakah hati ini memilih??? ADIT ATAU NIKO??????
    J J J J J
    “Mami!!!! Bingung sah mi!!!” kebiasaanku tiap pagi. Yaps, curhat ke mami Puspita. “Bingung kenapa to??” tanyanya. “Kalau kamu jadi aku, kamu bakal milih Niko atau Adit?” tanyaku. “Ya nggak tahu ya, mereka berdua kan nggak tipeku.” jawabnya santai. “Halah mi, ini kan cuma seandainya!” jawabku. “Hayo, lagi ngomongin apa leh?? Aku ditinggal terus!” ucap Firda mengganggu pembicaraan kami. “Salahmu berangkatnya siang!” jawab Puspita. “Fir, kalau kamu jadi aku kamu bakal pilih siapa? Adit atau Niko?” tanyaku pada Firda berharap memperoleh jawaban pasti. “Kalau aku sih milih Niko!” jawabnya. “Alasannya?” tanyaku. “Menurutku dia orangnya baik, asyik, tinggi, pintar lagi!” jawabnya. “Owh nggak bisa, kalau aku mending Adit1” sambung Puspita. “Alasannya mi?” tanyaku. “Em gimana ya?? Kalau dilihat kamu sama Adit itu cocok gitu!” jawabnya. “ Lho, kan dari luar. Coba dari dalam, Adit sama Anggi itu berbeda 1800!” sambung Firda. “Iya karna beda itu biar saling mengisi. “ jawab Puspita tak mau kalah. “Eh, sudah ah, malah debat sendiri!” sambungku. “Hehe, lha terus kamu mau milih siapa?” tanya Firda dan Puspita. “Nggak tahu ya, lihat saja ntar!” jawabku. Bel masuk sekolah berbunyi. Kita akhiri obrolan kami pagi itu dan memulai pelajaran.
    “Assalamu’alaikum!!!” ucapku sesampainya dirumah. “Wa’alaikumsalam!!1” jawab mamaku. Setelah shalat dan berganti pakaian saatnya isirahat. “Mungkin nggak ya Adit sms aku?” pikirku dalam hati. Baru sejenak memikirkan Adit, satu sms datang. Nomor baru lagi! “Hai!” ucapnya.
    “Hai juga, ini  siapa? jawabku. “Aku teman waktu SD-mu.” balasnya. “ Iya, siapa??” tanyaku. “Aku Riski! Masih ingat?” balasnya. Riski????? Cinta Monyetku dulu???? Setelah 2 tahun tak pernah berkomunikasi kini dia sms aku. “Owh, ya aku masih ingat kok! Omong-omong dapat nomor aku dari siapa?” tanyaku. “Ya rahasia, mau tahu aja!” balasnya bercanda. Yaps, kini Riski “rajin” sms-ku seperti Niko. “Sudah punya cowok belum?” tanyanya padaku. “Belum, kenapa?”jawabku. “Boleh nggak aku daftar?” balasnya. “Maksud kamu?” balasku. “Ya daftar jadi cowok kamu, boleh nggak?” balasnya. “Em tak tahu ya!!! Ya udah aku mau les dulu, Bye!!!” balasku. Uhh, malas ah sms-an sama dia, pikirku dalam hati. Baru mengakhiri sms-an dengan Riski, satu sms masuk lagi ke HP ku! Yaps, dari Niko. ”Hai, gi ngapain nih?” sms pertamanya. “Hai juga, aku lagi nggak ngapa-ngapain kok!” balasku. “Masak sih? Nggak lagi sms-an?” balasnya. “Tadi udah, baru saja selesai. “ balasku. “Owh, memangnya tadi sms-an sama siapa?” tanyanya. “Sama Riski. “ balasku. “Riski?? Siapa tuh?” balasnya. “Dia temanku, em lebih tepatnya mantan orang yang aku sukai. “ jawabku blak-blakan. Tanpa kusadari aku menceritakan semua masa laluku pada Niko. “Owh, jadi dulu dia pernah nyakitin kamu to!” tanyanya memastikan. “ Iya begitulah. “ jawabku. “Ya sudahlah, itu kan sudah berlalu, mendingan kita bahas yang lain saja!” balasnya. Dan kami mengganti obrolan kami.
    J J J J J
    “Bangun!!!! Sudah pagi!!!” sms dari Niko yang mengagetkanku. “Ah, ganggu orang tidur saja.” pikirku. “Iya, ini aku sudah bangun!” balasku. “Sudah shalat belum?” tanyanya.”Hehehe, belum!” balasku sedikit malu. “Ya sudah, buruan shalat dulu!” balasnya. Yeah, itulah sikap yang kusukai dari dia, menjadi sosok seorang kakak bagiku. “Ya deh, aku shalat dulu ya!!” balasku. “He’em, kalau sudah sms ya!” “Ini aku sudah selesai shalat!” sms-ku utuknya setelah 7 menit ia menunggu. “Owh, bagus deh! Pagi-pagi gini enaknya ngobrolin apa ya?” balasnya. Dan obrolan kami siap dimulai.
    Hari Minggu pun berlalu dan berganti Hari Senin. Aku menjalani hari-hari disekolah seperti biasa! Teettt!!! Bel pulang sekolah berbunyi, saatnya pulang! Sesampainya dirumah hal yang kulakukan adalah menghampiri HP kesayanganku. “Dapat sms nggak ya?? tanyaku dalam hati. Setelah kubuka ternyata Riski udah sms aku. “Udah pulang sekolah belum?” tanyanya. “Sudah, ini baru sampai rumah!” balasku. “Baru sejenak ngobrol sama Riski, Niko sms aku. “ Met siang, lagi ngapain?” “Met siang juga, aku lagi mijitin HP, kamu sendiri?” balasku. “Sama, kamu lagi sms-an sama siapa?” tanyanya. “Sama kamu & Riski, kalau kamu?” balasku. “Owh, kalau aku sama cewek yang aku suka.” Balasnya. “Wih, siapa tuh?” tanyaku. “Nggak siapa-siapa kok!” balasnya. “ Halah, kasih tahu dong!!” pintaku. “Aku belum siap kok!” balasnya. “Yang tahu kan cuma aku, aku janji nggak bakal bocor deh. “ rayuku. “Ya sudah, tapi jangan kaget ya!” balasnya. “OK, ;-)” balasku. “Em sebenarnya aku suka kamu sejak kita pertama kenal. Kalau boleh aku ingin menjadi lebih dari sekadar teman buat kamu. Gimana?? “  O’ooooo!!!!!! Apa yang harus aku lakukan? Aku suka Niko tapi aku juga masih suka Adit. Namun apa boleh buat, mungkin Tuhan mengirim Niko untukku buat menggantikan Adit. Adit, ma’afin aku, aku tak bisa memenuhi janjiku padamu dulu. Good Bye for You!!! Dan buat Niko, “Em kalau itu memang mau kamu, kita jalani saja.”  Dan semenjak malam itu aku resmi melepas status “jomblo”.
    Waktu berlalu begitu cepat. Tiga bulan sudah aku menjalani hubungan dengan Niko. Segalanya terasa indah. Aku mulai belajar untuk benar-benar menyukainya dan perlahan melupakan Adit. Aku dan dia selalu bersama. Apalagi kita satu kelas, jadi banyak kesempatan  deh! Hingga suatu hari terjadi sesuatu yang tak kuduga. “Hai…!!” sms pertama dari nomor yang tak kukenal. “Hai juga, siapa nih?” balasku. “Lupa sama aku ya??” balasnya. “Bukane lupa tapi memang nggak tahu.” balasku. “Coba deh ingat-ingat!” balasnya. “Nggak tahu, kasih tahu langsung saja deh!” paksaku. “Ya sudah, aku Adit! Aditya Prasetyo Putra.” Deg….!!! Senang rasanya Adit sms aku lagi. Namun sayang aku tak bisa menyukainya seperti dulu karna aku sudah ada yang punya. “Owh, kamu! Aku kira sudah lupa sama aku.” balasku. “Nggak kok. Omong-omong kamu sudah punya cowok ya?” tanyanya. “Kok kamu tahu?” balasku. “Tahu dong, semoga langgeng ya sama cowokmu!” sms terakhirnya untukku. Uhh, merasa bersalah deh! Hampir saja aku melupakannya kini dia hadir kembali dalam  kehidupanku. Kenapa harus pada waktu ini? Ya sudahlah, mungkin ini adalah tes untuk menguji kesetiaanku pada Niko.
    Keesokan harinya aku ceritakan semua pada 2 sahabatku. Yaps, Puspita dan Firda. “Mi, tadi malam Adit sms aku!” curhatku. “Masak sih? Bagus dong! Terus-terus????” tanyanya nggak sabar. “Ya biasa saja, cuma bentar kok!” jawabku. “Wah kamu bisa pendekatan lagi dong sama dia!” godanya. “Kamu lupa ya? Aku kan sudah punya. “ jawabku. “Owh ya, sulit juga ya di posisimu!” sambung Firda. “Lha iya, gimana nih? Ada yang punya saran nggak buat aku?” tanyaku. “Nggak tahu ah! Salah kamu sendiri serakah, sudah punya masih saja nyari lagi!” ejek Firda. Siapa yang nyari lagi! Salah sendiri tiba-tiba dia menghilang.” jawabku. “Sudah-sudah! Begini Nggi, sebagai sahabatmu aku cuma bisa nyaranin kamu memilih cowok yang benar-benar kamu sukai. Kalau kamu memang masih suka sama Adit putusin Niko, tapi kalau kamu suka sama Niko lupain Adit pelan-pelan. Kasihan kan dia kalau kamu jadiin dia sebagai pelarianmu. “ ujar Puspita bijaksana. “Wih, mami Pus!!! Kata-katanya ’menakutkan’! Dapat copy-an darimana ya?” ejekku. “Hahaha, dari sinetron pasti!” sambung Firda. “Ngejekmu itu lho!!” jawabnya pasrah. “Nggak kok mi, ya deh, makasih buat sarannya.” jawabku.  Lha terus kamu milih siapa?” tanya Firda. “Em tak tahu lah, mungkin Niko!” jawabku sambil menghela napas. Bel sekolah berbunyi. Pelajaran siap dimulai.
    Waktu berjalan dan terus berjalan. Hari demi hari aku lalui dengan rasa kebimbangan. Aku semakin takut tak bisa melupakan Adit. Hingga suatu malam Tuhan menjawab semua keluhan dan kebimbanganku.
    “Adek, ada yang mau kakak omongin!” sms pertama dari Niko yang tak tahu kenapa membuatku merasa lega. “Boleh, ngomong saja kak!” balasku. “Ma’afin kakak, kakak nggak bisa nglanjutin hubungan ini lagi!” Oh My God! Benarkah dia mengucapkan itu setelah dia bejanji akan selalu bersamaku? “Tapi kenapa kak?” tanyaku meminta penjelasan. “Orang tua kakak mengetahui hubungan kita dan mereka ingin kakak berkonsentrasi dulu sama sekolah. Ma’afin kakak ya dek, kakak harap dewasa nanti kita bisa bersama lagi.” balasnya meyakinkan. Sejujurnya aku tak tahu apa yang kurasakan. Yang aku tahu setiap cewek yang berada diposisiku pasti akan merasakan sakit hati. Namun aku tidak. Tak ada rasa sakit, sedih ataupun perih. Sudahlah, mungkin aku sedikit berbeda dan statusku berubah kembali. Yaps, sebagai “jomblowati”.
    Semenjak kejadian itu, aku dan Niko tak pernah berkomunikasi. Walau kami satu kelas seakan tak terjadi apa-apa. Semua heran! “Nggi!!” panggil salah satu temanku. “Iya, ada apa?” jawabku memalingkan badan. “Sekarang kamu sama Niko nggak pernah bareng lagi kenapa? Lagi ada masalah?” tanyanya. “Nggak ada kok!” jawabku. “Lha terus?” jawabnya meminta kepastian. “Aku dan dia kan sudah putus.” jawabku dengan nada lemah lembut. “He????????? Masak sih????? Kok bisa??” jawabnya mengagetkanku. “Halah, biasa saja lagi! Untuk lebih jelasnya tanya sama Niko, OK!” jawabku dan beranjak meninggalkannya.
    “Uhh, bentar lagi UAS nih! Harus belajar sungguh-sungguh!” pikirku. Sekarang aku jarang sekali mijitin HP kecuali dalam situasi penting. Yeah, aku lebih berkonsentrasi pada sekolahku dulu.
    Selama 6 hari penuh aku menjalani tes, dan akhirnya………..”Merdeka”!!!! UAS pun berakhir, saatnya bersenang-senang. Lega rasanya. Tinggal menunggu hasilnya.
    “Assalamu’alaikum!! Ma, aku pulang!” ucapku memasuki rumahku. “Wa’alaikumsalam! Sudah pulang Nggi?” jawab mamaku. “Sudah ma!” jawabku sambil menaruh tasku dikamar. “Ya sudah, ganti baju langsung makan! Mama masakin ayam goreng kesukaanmu!” ujar mamaku. “Hore, makan ayam goreng!” jawabku bersemangat. Kebetulan hari ini aku lagi ‘libur’, jadi nggak shalat deh! Setelah makan siang, aku bergegas menonton TV. “Sudah seminggu ini HP-ku sepi banget leh!” gumamku dalam hati. Baru sebentar mengeluh akhirnya satu sms masuk. Hatiku bertanya-tanya, kira-kira dari siapa ya??? Dan ternyata,, dari Adit. “Hai…!!!” sms pertamanya untukku. Senangnya aku, akhirnya dia sms aku lagi. “Hai juga!!” balasku. “Gi ngapain?” tanyanya. “Lagi nonton TV, kamu sendiri?” balasku. “Sama, aku juga!” Kini aku dan dia mulai akrab lagi seperti dulu.
    Waktu yang paling mendebarkan pun tiba! Yaps, pembagian raport. “Kira-kira aku peringkat berapa ya??” pikirku. Lama menunggu akhirnya papaku keluar. “Pa, dapat peringkat berapa?” tanyaku gelisah. “Selamat ya, anak papa dapat peringkat ke-2!” jawab papaku. “Beneran? Ye…!!! Akhirnya bisa ngabulin permintaan papa!” jawabku kegirangan. “Ya, tapi kalau bisa ditingkatkan lagi, OK!” ucap papaku sembari mencubit pipiku. “OK pa!!” jawabku sambil mengacungkan jempol. Tiga minggu berada dirumah akhirnya masa sekolah pun dimulai kembali. “Nanti aku dikelas 9 apa ya??” tanyaku pada 2 sahabatku. “He’em, kira-kira kita satu kelas nggak ya?” sambung Puspita. “Ya, semoga saja kita satu kelas.” jawab Firda. “O ya, ngomong-ngomong kamu sama Adit gimana?” tanya Puspita kepadaku. “Nggak gimana-gimana.” jawabku sambil tersenyum. “Hayo, gimana leh?” tanya Firda. “Halah, ya gitu ah, bisa dibilang kita mulai dekat lagi.” jawabku malu-malu. Baru sejenak mengobrol pembagian kelas dimulai. Aku, Firda, dan Puspita mencari-cari nama kami dan……. Yeah, kami satu kelas!! “Hore”!!!! teriak kami bertiga. Senangnya aku berada satu kelas lagi sama 2 sahabat kesayanganku itu, tepatnya dikelas 9B!
    Tiga bulan sudah aku menempati kelas 9B dan selama itu pula aku mengenal kembali sosok Adit. Dan ternyata penyebab dulu dia nggak pernah hubungin aku gara-gara dia kehilangan nomor HP aku. Bodohnya aku berpikir negatif tentangnya. Andaikan waktu bisa diputar kembali. Namun sudahlah, semua telah terjadi. Toh, sekarang aku dan Adit akrab seperti dulu.
     “Kalau aku bisa kamu kasih apa?” balas Adit yang semula aku tak tahu kita lagi bahas apa! “Aku turutin yang kamu minta deh!” balasku. “Yakin?” “Yakin!” jawabku. “Beneran?” “Beneran!” jawabkku. “Kalau begitu aku minta…….” Balasnya membuatku penasaran. “Minta apa? Mumpung aku belum tidur nih!” balasku tak sabar. “Ya deh, aku minta kita jalani hubungan kita lebih serius lagi, mungkin dengan kamu jadi cewek aku.” Ye,, akhirnya sesuatu yang aku impikan terjadi. Adit mengungkapkan perasaannya padaku. Bahagianya aku malam itu!! Aku mulai mengetik jawabanku untuknya dan aku yakin jawabanku dapat membahagiakannya.
    “Semoga aku dan dia selalu bersama, dikala suka maupun duka.”
    Adit, kutitipkan hati ini kepadamu
    J

0 komentar:

Post a Comment

 
Loading...
Mohon Tunggu Sebentar Ya!
Sedang Memuat Halaman Blog-nya Nih...

Welcome In Blogging Is My Life

Contoh Sliding Login Dengan JQuery

Disamping ini adalah contoh Sliding Login menggunakan JQuery. Login Form Disamping hanya Contoh dan tidak dapat digunakan layaknya Login Form FB, Karena Blog ini terbuka untuk umum tanpa perlu mendaftar menjadi Member

Tutorial Blog

Untuk membuatnya Silahkan : Klik Disini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!